Senin, 04 Januari 2010

Bimbingan Konseling

KONSELOR DAN INTERNET

Berapa waktu yang dimiliki konselor untuk memberikan bimbingan kepada para siswa? Berapa jumlah konselor di sebuah sekolah dibandingkan jumlah siswa yang harus dilayani? Jawaban atas 2 pertanyaan tadi pada umumnya kurang memuaskan. Tidak banyak waktu yang dimiliki seorang konselor, kalaupun ada, untuk bertatap muka dan memberikan layanan bimbingan kepada para siswanya. Jika konselor tidak mempunyai waktu terjadwal, seperti pada guru maatpelajaran, untuk masuk kelas, bagaimana mungkin program BK di sekolah bisa berjalan baik? Bagaimana mungkin BK bisa efektif jika konselor hanya mempunyai kesempatan masuk kelas menunggu pada saat kelas kosong karena guru yang bersangkutan tidak hadir? Masalahnya memang, karena BK bukan mata pelajaran dan tidak memberikan penilaian kepada siswa, sulit bagi sekolah untuk memberikan jadwal regular bagi konselor di tengah padatnya muatan kurikulum. Lebih baik memberikan tambahan waktu untuk mata pelajaran tertentu daripada digunakan untuk BK. Kurang lebih begitu jalan pikiran para pengelola sekolah. Lalu bagaimana bimbingan sebagai sebuah proses berkesinambungan akan mendapat tempat?

Keterbatasan jumlah konselor adalah masalah lain. Kalau toh konselor mendapat jatah rutin masuk kelas, bagaimana mengatur jadwal 1-2, atau 3 orang konselor melayani belasan kelas yang ada? Pasti super sibuk, dari satu kelas ke kelas lain.

Terkendala waktu dan personil, bagaimana program BK bisa berjalan secara efektif dan efisien? Jawabnya adalah manfaatkan teknologi informasi, khususnya internet. Peran teknologi tinggi dalam dunia pendidikan khususnya Bimbingan dan Konseling sangat dibutuhkan untuk mendapatkan hasil yang sesuai dan maksimal.

Dengan makin luasnya keterjangkauan wilayah oleh jaringan internet, kini sudah saatnya bagi setiap konselor untuk melek internet. Kedepan diharapkan peran BK di sekolah lebih riil dan bermanfaat bagi siswa dengan memanfaatkan internet. Dengan internet, konselor bisa memberikan informasi dan bimbingan kepada siswa tanpa kendala waktu dan tempat.

Dalam hal ini komunikasi dan interaksi konselor dengan siswa dapat dilakukan dengan cara:

1. Menggunakan Email sebagai Kotak Sampah untuk menampung semua permasalahan, unek-unek, ganjalan yang dirasakan siswa. Konselor dapat memanfaatkan masukan yang diberikan siswa sebagai bahan evaluasi dan penyusunan materi bimbingan.
2. Membuat Blog Bimbingan Konseling. Kenapa tidak? Blog sekarang sangat merakyat, mudah dibuat, dan gratis. Sudah saatnya BK di sekolah memanfaatkan blog sebagai media informasi dan bimbingan.

Apakah memanfaatkan internet sebagai media bimbingan akan mencapai sasaran yang diharapkan? Apakah siswa siap menerima dan meresponnya? Mengapa tidak, mengapa harus ragu? Sebab saat ini tingkat melek internet di kalangan para siswa barangkali lebih tinggi dari kalangan pendidik. Anda hanya perlu mencoba dan membuktikannya. Yang menjadi masalah justru kesiapan konselor sendiri. Apakah seorang konselor sudah siap dengan teknologi internet? Kalau tidak siap, jangan kaget bahwa konselor makin ditinggalkan siswa.

Ibarat kata, lebih tahu dan tahu lebih siswa daripada konselornya tentang hal yang disampaikan.

Bagaimana menurut anda?


(tulisan ini diilhami artikel Tutang, SE, MM “PERANAN TI DALAM BIMBINGAN KONSELING (BK)” di internet)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar